Susiyati (36) bersama anaknya, Anwar (3), dengan sabar mengantre sebungkus nasi jangkrik bersama ribuan orang di kompleks Masjid Makam dan Menara Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Kamis (16/12/2010). Ia mengaku antre selama satu jam sebelum pembagian nasi dibuka sekitar pukul 06.00.

Warga Sayung, Demak, ini menuturkan, dia dan anaknya sampai di Kudus sejak pukul 03.30 dini hari. ”Kalau tidak pagi-pagi sekali, takut terlambat dan tidak kebagian nasi jangkrik,” kata Susiyati, sembari menenangkan Anwar yang rewel di gendongannya.

Susiyati meyakini kalau nasi jangkrik membawa berkah. Berkah itu bisa bermacam-macam, misalnya memberikan rezeki pada keluarga, kesembuhan pada yang sakit, dan mengingatkan penerima pada Sang Pemberi Hidup.

Nasi jangkrik merupakan nasi berlauk daging kambing atau kerbau yang dibungkus dengan daun jati dan ditali dengan anyaman jerami. Biasanya, daging kambing atau kerbau itu dimasak dengan bumbu garam asem.

Menurut Ketua Yayasan Masjid Menara Makam Sunan Kudus (YM3SK), Em Nadjib Hassan, nasi jangkrik merupakan makanan khas Kudus yang konon merupakan makanan favorit Sunan Kudus.

Oleh Sunan Kudus, nasi jangkrik kerap dibagikan setiap 10 Muharam atau Syuro. Tradisi itu berlangsung hingga sekarang.

Tujuannya adalah membangun semangat berbagi kepada sesama manusia, terutama kepada setiap orang yang membutuhkan dari berbagai kalangan dan latar belakang. Pada tahun ini, YM3SK memasak sebanyak 6,1 ton beras, 73 ekor kambing, dan 11 ekor kerbau.

”Yayasan memperoleh bahan makanan itu dari warga Muslim maupun non-Muslim yang ingin membantu sesama baik berupa uang maupun barang. Dari bahan-bahan itu, yayasan membuat sekitar 26.000 nasi jangkrik,” kata Nadjib.

Banyaknya nasi jangkrik yang disediakan panitia, dan juga nilai spiritual nasi jangkrik tersebut membuat ribuan orang rela mengantre di gang-gang sempit di kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus, hingga berjam-jam.

Di barisan antrean laki-laki, panitia penyelenggara berulang kali mengingatkan pengantre agar tidak berdesak-desakan di gang sempit. Panitia pun memecah barisan menjadi beberapa bagian.

Tradisi buka luwur

Menurut Nadjib, pembagian nasi jangkrik merupakan salah satu bagian dari tradisi buka luwur, atau membuka kain kelambu makam Sunan Kudus. Tradisi itu tidak dipahami atau disebut sebagai houl atau peringatan wafatnya seorang ulama atau wali tertentu.

”Tanggal 10 Muharam bukanlah tanggal wafat Sunan Kudus, tetapi tanggal penggantian kelambu makam Sunan Kudus. Selama ini, tanggal wafat Sunan Kudus belum diketahui secara pasti,” kata dia.

Tradisi buka luwur diawali pembacaan Al Quran di Pendopo Tajug di kompleks Makam Sunan Kudus, yang dilanjutkan dengan pengajian umum, perarakan, dan pemasangan kelambu utama, diakhiri dengan pembacaan tahlil, doa, dan selameten.

Sehari sebelumnya, YM3SK menyediakan bubur asyura. Bubur itu terbuat dari beras, singkong, jagung, pisang, kacang tolo, kacang hijau, kacang tanah, serai, kayu manis, pandan, dan bumbu gule. Bubur itu merupakan simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Nur Said, dalam ”Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa” (2010), menyebutkan, tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus mampu menjadi media pembauran antara masyarakat Muslim dan non-Muslim. Melalui tradisi itu, masyarakat diingatkan pentingnya memiliki semangat multikultural yang kerap digaungkan Sunan Kudus.

Pengelola selalu menerima bantuan dari pihak manapun, baik Muslim maupun non-Muslim. Oleh karena itu nasi jangkrik dibagikan pula kepada semua masyarakat tanpa memandang agama, etnis, dan latarbelakang orang yang diberi.

”Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tradisi buka luwur merupakan modal sosial yang mampu merekatkan umat lintas iman dan lintas kultur,” tulis Nur Said.

(HENDRIYO WIDI)/Tempo.com